Bagi sebagian orang ada yang percaya kalau Nabi khidir masih hidup. Makanya banyak juga orang-orang yang ingin bertemu dengannya. Konon katanya,orang yang bisa bertemu dengannya akan memperoleh ilmu yang sangat luas dalam waktu singkat. Diilhami karena cerita Pak Kyai-nya,tersebutlah seorang santri yang ingin sekali bertemu dengan Nabi Khidir. Maka ia nekat mendatangi sang kyai untuk meminta petunjuk bagaimana caranya bisa bertemu dengan sosok yang selama ini membayangi fikirannya.
"Benarkahkamu ingin bertemu dengan Nabi Khidir?"
"Iya,Pak Kyai"
"Tapi syaratnya sangatlah berat!"
"Saya akan mencobanya"
"Sudahlah,kamu tidak akan bisa!"
Akhirnya sang santri pun hanya bisa kecewa mendengar keputusan sang kyai.Namun keinginan tersebut masih terus menggebu-gebu.
Keesokan harinya ia kembali menghadap sang kyai, berharap gurunya akan berubah pendapat!
"Apa yang kamu inginkan?"
"Saya ingin bertemu Nabi Khidir, Pak Kyai!"
"Kamu masih saja belum jera. Sudah saya bilang, syaratnya sangat berat!"
"Saya akan mencobanya"
Kembalilah,kamu tidak akan bisa."
Namun sekali lagi, keinginan itu makin lama makin menjadi-jadi. Semakin ditentang, semakin kuat keinginan santri itu untuk bertemu dengan Nabi Khidir.
Maka iakembali lagi menghdap sang kyai.
"Tolonglah,Pak Kyai! Saya sangat berharap. Jika tidak karena cerita Pak Kyai,saya tidak mungkin melakukan ini. Semakin ditentang keinginan inisemakin menjadi-jadi. Saya mohon."
Melihat santrinya dengan wajah memelas dan seperti mau menangis, kontan sajasang kyai akhirnya berkata, "Kalau kamu memaksa, baiklah. Tapi tadikan sudah saya bilang. Syaratnya sangat berat. Tidak semua orang bisa bertemu dengan Nabi Khidir!"
"Saya akan mencobanya, Pak Kyai!"
"Baiklah.Dan perlu kamu ketahui, kesempatan ini cuma datang sekali. Tidak bisa diulang lagi. Apa kamu bersedia?"
"Saya bersedia pak Kyai!"
"Baiklah,kembalilah kemari besok!"
Dengan wajah sumringah, santri itu mengangguk kemudian mencium tangan sang kyai tanda hormat. Akhirnya ia bisa juga dapat kesempatan juga untuk bertemu dengan seorang wali dan nabi yang konon katanya masih hidup sampai sekarang itu.
Keesokan harinya, kembalilah sang santri menghadap sang kyai.
"Apakau sanggup?" kata sang kyai kepada santrinya setelah ia memberitahukan syarat-syaratnya.
Ternyata berat juga persyaratannya. Tidak ada kesempatan kedua. 40 hari bukanlah waktu yang sebentar. Siang hari berpuasa ditambah ia harus dzikir pada malam harinya. Dan malam terakhir nanti ia tidak boleh tidur, tidak boleh pergi-pergi karena jika beruntung Nabi khidir akan berkunjung ke rumahnya. Ya, ya. Sangat berat. Santri pun berpikir keras. Apa ia sanggup? Jika ia gagal, maka tidak ada kesempatan untuk mengulang lagi. Namun rasa penasaran dan keinginan yang menggebu-gebu membuatnya menyanggupi persyaratan berat yang diajukan sang kyai,"Baiklah saya sanggup, Kyai!" katanya dengan mantap. Pak kyai mengulangi sampai tiga kali dan dijawab dengan mantap oleh santrinya.
Makamulailah hari-harinya diisi dengan puasa di siang hari dan dzikir dimalam hari dengan satu tujuan: semoga ALLAH mengabulkan doanya untuk bertemu dengan Nabi khidir. Mulanya ia bersemangat, tengah-tengah-nya muncul rasa bosan dan lelah berkepanjangan. Namun ia segera saja merutupi dirinya sendiri. Mengingat kesempatan ini hanya datang sekali ditambah lagi bayangannya bisa ketemu dengan Nabi Khidir(bayangkan, bisa ketemu nabi!), semangatnya pun muncul lagi hinggamalam terakhir, malam ke empat puluh.
Malam itu sungguh istimewa. Bukan hanya karena syarat yang akan segera berakhir, tetapi juga karena ia akan bertemu dengan seorang nabi.Bagaimanakah rupanya? Dalam kisah-kisah para Nabi, biasanya Nabi akan memakai jubah putih panjang. Kadang dilengkapi dengan sorban yang menutupi kepalanya. Seketika senyumnya merekah membayangkan Nabi Khidir akan berkunjung ke rumahnya. Susah payah selama 40 hari tidak ia pedulikan lagi. Maka ia persiapkan malam itu segalanya dengan lebih baik. Rumah telah ia bersihkan. Kamar dan makanan pun telah ia persiapkan. Seperti kata pak kyai, malam ini ia tidak boleh tidur sampai pagi. Setelah shalat Isya masih ia sibukkan dengan dzikir malam dan berdoa kepada Allah agar diberi kesempatan bertemu dengan Nabi khidir. Ia pun menanti di depan rumah. Seorang teman yang datang berkunjung untuk mengajaknya pergi ia tolak dengan halus. Ia telah bertekad untuk tidak pergi kemana-mana karena akan ada tamu agung yang berkunjung ke rumahnya.
Semakin malam, cuaca semakin dingin. Angin bertiup kencang. Hawa dingin menusuk sampai tulang, namun tidak menyurutkan sang santri untuk menunggu dan terus menunggu. Penderitaannya semakin mencapai puncak,suasana sepi seorang diri, digigit nyamuk, ditambah hawa dingin yang terus menyergap. Hampir saja ia mengantuk karena malam telah menjelang. Namun segera saja ia menghangatkan badan dengan minum air hangat dan kembali berdzikir, menunggu sosok Nabi Khidir. Jika malam ini ia tertidur, maka sia-sialah sudah pengorbanannya selama ini. Iamasih terus menunggu.
Namun sosok yang ia tunggu tidak juga muncul. Sosok yang ia temui lalu lalang di depan rumah hanyalah para tetangganya yang ia kenal. Jam telah menunjukkan jam 1 tengah malam. Tapi tamu itu tetap tidak juga datang. Mungkinkah Nabi khidir tidak akan datang. Mungkinkah Pak kyai berbohong. Mungkinkah memang benar Nabi Khidir itu tidak ada.Entahlah, ia bingung. Angin kencang yang dingin terus berhembus.Santri itu pun sangat kedinginan. Guntur dan kilat akhirnya menyambar-nyambar dengan sadisnya. Hujan deras pun turun seketika.Sungguh penderitaan yang luar biasa. Namun santri itu masih tetap tidak beranjak masuk ke rumah. Cipratan air hujan yang dingin tidak menggoyahkan niatnya untuk terus menunggu. Kilat dan guntur masih terus menyambar. Suaranya sungguh menakutkan. Jam telah menunjukkan pukul 3 dini hari. Hujan masih juga turun bahkan lebih deras.Seketika ia pun menjadi tidak yakin dengan apa yang ia lakukan selama ini. Ternyata tamu yang ia tunggu tidak datang. Tidak mungkin akan adatamu yang datang ditengah hujan deras ini. Sangat tidak mungkin. Maka tekadnya sudah bulat menghadap kyai untuk protes esok hari. Semuayang ia lakukan telah sia-sia. Ia sungguh kecewa.
Tepat ia akan masuk, dari arah yang tidak ia sangka-sangka datanglah seorang dengan menunggang pedati (gerobak yang ditarik sapi) melewati depan rumahnya. Ia sepertinya kehujanan. Santri mengira, mungkinkah ia nabi khidir yang ia tunggu. Tapi ia harus kecewa karena ia hanyalah seorang lelaki biasa yang bermaksud menanyakan tempat. Ia tepat berhenti di depan santri dan bertanya, "kemanakah arah menuju daerah ini?".Daerah yang ia tanyakan adalah sebuah kawasan pesisir tepi pantai.Dengan malas, santri itu pun menjelaskan ke arah mana orang itu harus pergi. Hujan semakin mengguyur dan menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang.
"Maukahengkau mengantarku ke daerah itu?"Tanya lelaki itu.
Santripun bingung. Disatu sisi ia ingin menolong, tetapi di sisi lain harapannya untuk bertemu dengan Nabi khidir masih ada. Malam ini ia harus tetap ada di rumah, tidak boleh pergi kemana-mana. Maka ia punmenjawab dengan, "Mohon maaf, saya tidak bisa mengantar. Saya sedang menunggu seorang tamu!".Lagian, saat itu memang hujan deras.
Lelaki itu menjawab, "Baiklahkalau begitu. Terima kasih atas informasinya. Saya akan menuju tempat ini!"katanya sambil menjalankan pedatinya. Hujan masih mengguyur bumi dimalam yang sepi. Orang-orang mungkin sudah lama tertidur dengan lelapnya. Santri itu segera saja masuk rumah. Tetapi tetap tidak tidur. Ia duduk di ruang depan sambil terus mengawasi siapa saja yang lewat di depan rumahnya malam itu. Namun sampai subuh tiba, tidak adaorang yang lewat atau bertamu ke rumahnya. Ia sungguh kecewa.Pengorbanannya sia-sia selama ini. Maka ia putuskan untuk menghadapkyai dan menjelaskan semuanya.
Santri itu menghadap kyai dengan wajah penuh kekecewaan. Ia ceritakan mulaidari awal sampai akhir. Ia tunggu semalaman sampai tidak tidur demi menunggu kedatangan Nabi Khidir yang selama ini ia harapkan. Namun tidak juga datang. Hampir saja ia menyalahkan sang kyai karena sosok nabi khidir yang diyakini masih hidup ternyata hanyalah mitos belaka.Tidak ada. Nabi khidir sudah tidak ada. Semuanya bohong. Namun ada yang aneh ketika pak kyai tersebut berkata, "Tadi malam tidak hujan!".Ucapan kyai tadi dibenarkan oleh orang-orang yang memang duduk disamping mereka dan mendengarkan ceritanya. Ia semakin heran ditambah ucapan kyai yang berkata lagi. "Lelaki berpedati itulah nabi khidiryang ingin kau temui. Namun kamu tidak mau ketika diajaknya pergi.Kau lebih mementingkan ingin bertemu Nabi khidir dan tidak mau menolongnya menunjukkan jalan"
Benarkah???!Benarkah tadi malam tidak hujan? Ketika ia mengecek halaman rumahnya benar-benar heran. Tanahnya masih tetap kering, tidak ada tanda-tanda bekas hujan deras semalam. Padahal malam itu ia jelas-jelas mendengar bunyi guntur dan kilat menyambar. Hujan deras turun dan hawa dinginnya sampai membuatnya kedinginan. Dan lelaki itu, benarkah ia Nabi khidir yang selama ini ia tunggu? Oh, jika benar, sungguh merugilah diriku. Kenapa tidak menolong lelaki itu menunjukkan tempat yang ia tanyakan. Oh, tidak. Bisa penyesalan pun tergurat dengan jelas di wajah santri itu.
"Bagaimana kyai, kalo saya ulang dari awal. Saya akan puasa lagi 40 hari dandzikir malam seperti dulu biar bisa ketemu Nabi Khidir lagi"katanya penuh harap.
"Tidak bisa, kesempatan hanya datang sekali. Dan kau telah melewatkan kesempatan itu"kata kyai dengan tenang.